Riky Metall's Blog di Facebook!

Like Page halaman rikymetalist.blogspot.com di Facebook!
Dan Update status kamu via rikymetalist.blogspot.com disini!

INFO

- Mohon dibaca : Cara download di Blog ini. (rikymetall's Blog)
- Mohon dibaca : CARA DOWNLOAD via TUSFILES.NET
- Jika terdapat Link Download yang rusak, silahkan laporkan kepada saya melalui
email saya di : rikymetal10@gmail.com

Jasa Pemasangan Iklan

Jasa Pemasangan Iklan

PERHATIAN

Perhatian. Khusus Untuk Daerah MEDAN dan SEKITARNYA. Bagi Anda Mahasiswa/Mahasiswi yang sedang menyelesaikan SKRIPSI ataupun Tugas Akhir tetapi Anda Merasa Bingung, Tidak Sempat dan banyak kesibukan untuk mengerjakannya, Anda bisa Hubungi di

rikymetal10@gmail.com

(Jasa Pengerjaan Skripsi). Hanya Menangani Skripsi Mahasiswa dengan Jurusan sbb :

- Bahasa Indonesia - PBSI
- PKn
- Matematika
- Kimia
- Biologi
- Sejarah

TIDAK MELAYANI Jurusan : Bahasa Inggris, Telekomunikasi, Manajemen dan Teknik Informatika, Komputer.
Untuk Harga Bisa Di Negosiasi kepada Bpk. Sarwono. Alamat silahkan tanya melalui EMAIL yang tercantum di atas.
Namun yang terpenting Anda juga harus Membantu walaupun sedikit agar Anda paham apa isi Skripsi Anda.
Beberapa mahasiswa/i dari kampus terkenal di Medan telah menyelesaikan skripsinya disini. :)

Jika Ada pertanyaan, silahkan kirim pesan Anda di : rikymetal10@gmail.com

Saturday, April 7, 2012

Berbohong Untuk Kebaikan

SEBAGAI manusia, usia 40 tahun, seharusnya dalam kondisi konsis. Jika pada usia itu, lanjut pendiri pondok pesantren Azzaiytun Indramayu, Dr Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, — dalam tauziyah Qalbiyah Jumat 8 Agustus 2003 –, manusia masih berbohong, maka amalannya itu tak akan mendapat ridha; amalun salihun la yardlahu.
Manusia yang sudah berusia 40 tahun namun masih tidak konsisten dengan nilai-nilai kebaikan, dia akan menjadi manusia hancur. Kenapa? Dalam psikologi, setelah usia 40 tahun, manusia sudah tidak dituntut konsistensi semata, tapi sudah harus wise, bijak. Konsistensi secara sederhana bisa diistilahkan dengan kejujuran.
Dan jujur bukan milik manusia usia 40 tahun belaka. Sejak anak mulai mengenal nilai, kejujuran sudah harus ditanamkan. Bahkan, merujuk konsep long life learning, yang dikemukakan Rasullullah Muhammad, nilai mulia tersebut diajarkan sepanjang masa, sejak masih di dalam kandungan ibu, mahdii, hingga ke kuburan, lahdii.
Jika pada usia 40, seseorang masih sering berdusta (kidzib), maka dia akan terjerumus pada perbuatan yang bermakna kejahatan.
Rasulullah pernah memberi nasihat kepada seorang muallaf yang baru saja mengucapkan syahadatain. Dia meminta nasihat. Nabi memberinya pesan pendek, jangan berbohong, la tahdzab. Pesan singkat itu bahkan diulangi hingga tiga kali. Pesan sederhana nan konsisten.
Dalam situasi tertentu, bohong sebagai strategi meraih kebaikan, bisa dibenarkan. Saat nabi melindungi seorang muslim dari ancaman pembunuhan kaum kafir, dalam sebuah hadist, rasulullah dikisahkan pernah “berbohong.”
Saat itu Nabi yang duduk di bawah sebuah pohon ditanya, apakah dia melihat seorang berlalu di dekatnya. “Sejak saya berdiri di sini, saya tak melihat siapa-siapa kecuali Anda,” jawab Rasulullah yang menyambut si pembunuh dengan berdiri.
Para ulama pun kemudian mengistilahkannya dengan ‘bohong kecil” yang bermanfaat dalam kondisi darurat dan untuk kemaslahatan yang lebih besar.
Apakah itu, menjadi rujukan untuk tidak jujur? Tidak! Meski dia terbilang dosa kecil, namun jika bertumpuk dan selalu, tentu akan menjadi hal besar. Ahli konseling punya prinsip, bohong pertama akan diikuti bohong-bohong lanjutan.
Kunci sukses seseorang, bukan dari hal besar melainkan hal kecil. Dasar hukum Islam, usul fiqhi, telah mengajarkan satu kaidah hukum yang kongret. Apa yang besarnya diharamkan, maka kecilnya juga haram.
Pertanyaannya, masih seperti dikemukakan AS Panji Gumilang, jika di usia 40 tahun masih ada “kebiasan” seseorang berbohong, lantas bagaimana mengobatinya?
Setiap penyakit ada obatnya. Kullu dain dawaaun, demikian kata nabi.
Bohong dikategorikan penyakit hati. Obat berbohong adalah dari diri orang itu. Kemauan untuk membiasakan tidak mengulanginya adalah cara efektif. Atau setidaknya belajar untuk memilih diam.
Pelajaran ini bisa dimulai dari sendiri. Jika merasa sudah terjebak satu kebohongan pada orang lain, atau setidaknya diri sendiri cepatlah mengakuinya. Ya, akuilah bahwa kita berbohong! Itu lebih mulia dari pada memendamnya, dan akan menjadi dasar untuk kebohongan-kebohongan berikutnya.

@Thamzil Thahir

No comments:

Post a Comment

Saya mengharapkan saran dan komentar dari Anda. Namun sangat indah jika Anda ramah dan sopan, serta bijaksana dalam berkomentar. :)

Komentar Terakhir