Riky Metall's Blog di Facebook!

Like Page halaman rikymetalist.blogspot.com di Facebook!
Dan Update status kamu via rikymetalist.blogspot.com disini!

INFO

- Mohon dibaca : Cara download di Blog ini. (rikymetall's Blog)
- Mohon dibaca : CARA DOWNLOAD via TUSFILES.NET
- Jika terdapat Link Download yang rusak, silahkan laporkan kepada saya melalui
email saya di : rikymetal10@gmail.com

PERHATIAN

Perhatian. Khusus Untuk Daerah MEDAN dan SEKITARNYA. Bagi Anda Mahasiswa/Mahasiswi yang sedang menyelesaikan SKRIPSI ataupun Tugas Akhir tetapi Anda Merasa Bingung, Tidak Sempat dan banyak kesibukan untuk mengerjakannya, Anda bisa Hubungi di

rikymetal10@gmail.com

(Jasa Pengerjaan Skripsi). Hanya Menangani Skripsi Mahasiswa dengan Jurusan sbb :

- Bahasa Indonesia - PBSI
- PKn
- Matematika
- Kimia
- Biologi
- Sejarah

TIDAK MELAYANI Jurusan : Bahasa Inggris, Telekomunikasi, Manajemen dan Teknik Informatika, Komputer.
Untuk Harga Bisa Di Negosiasi kepada Bpk. Sarwono. Alamat silahkan tanya melalui EMAIL yang tercantum di atas.
Namun yang terpenting Anda juga harus Membantu walaupun sedikit agar Anda paham apa isi Skripsi Anda.
Beberapa mahasiswa/i dari kampus terkenal di Medan telah menyelesaikan skripsinya disini. :)

Jika Ada pertanyaan, silahkan kirim pesan Anda di : rikymetal10@gmail.com

Tuesday, June 18, 2013

Prinsip Kerja Stasiun TV

Cara kerja stasiun TV pertama-tama dimulai dari Departemen Programming. Departemen inilah yang merencanakan dan menentukan program apa yang akan ditayangkan, pada jam berapa, dan siapa target pemirsanya. Lalu program itu apakah harus dibuat sendiri secara inhouse, outsource, dibeli dari PH lokal atau harus diimport dari luar negeri. Jika dibeli dari luar negeri, program itu berupa cassete atau berupa siaran langsung (live). Progam impor dalam bentuk pita cassete contohnya adalah film seri The A-Team, Smallville atau Mc Gyver, sedangkan program impor live contohnya adalah sepak bola piala dunia, tinju professional atau balap mobil F1.
Bila program-program itu telah dipilih dan jadwal penayangannya telah dutentukan, maka bagian Sales & Marketing yang akan memasarkan / menjualnya kepada calon pemasang iklan. Slot-slot waktu yang tersedia untuk iklan kemudian diberi harga (rate card), sedangkan jenis iklan yang ditawarkan bisa berupa video, graphic, animasi, running text, iklan built in atau blocking time. Itu semua tergantung dari kesepakatan antara kedua belah pihak (pemasang iklan dan operator stasiun TV).
Jika program harus dibuat sendiri secara in house, maka bagian Produksi kemudian akan menyusun crew, membuat jadwal dan memproduksi program itu sesuai target waktu yang telah ditentukan. Produksinya bisa dikerjakan di dalam studio atau di luar studio, tergantung dari jenis program apa yang sedang dibuat. Setelah jadi (dalam bentuk pita cassete atau file hardisk) langkah berikutnya adalah proses Pasca Produksi (Editing, Graphic dan Quality Control). Bila telah lolos dari Quality Control berarti program ini telah siap tayang, dan program itu kemudian dikirim ke Playout untuk dimasukkan ke dalam daftar tunggu (Play List). Nantinya, pada jam, menit dan detik yang telah ditentukan, program ini akan tayang sendiri secara otomatis berdasarkan perintah dari software On-Air Automation.
On-Air Automation bekerja berdasarkan data entry yang dimasukkan oleh bagian Traffic. Data yang di entry itu misalnya: judul program, durasi, jam, menit dan detik kapan program itu harus tampil ke layar. Jika fasilitasnya tersedia, bisa juga data itu berisi kapan running text, graphic atau animasi iklan harus tampil bersama-sama dengan program (fasilitas ini disebut dengan Secondary Event). Bagian Traffic biasanya berada di bawah Sales dengan tujuan agar memudahkan koordinasi dan kontrol terhadap penayangan iklan. Sebab hal ini berakitan erat dengan masalah tagihan dan pembayaran iklan. Traffic atau pengaturan lalu lintas program dan iklan ini cukup rumit, karena melibatkan banyak pihak (Programming, Sales, Finance dan Teknik) sehingga diperlukan software khusus untuk membantu mempermudah teknis-operasionalnya.
Ketika semuanya sudah tersusun rapi dan kemudian di run, maka Playout akan secara otomatis menayangkan program dan iklan itu secara berurutan sesuai jadwal yang telah tersusun dalam Play List. Sinyal audio-video yang keluar dari Playout kemudian dipilih oleh Master Switcher untuk selanjutnya dikirim ke Pemancar untuk dipancarkan. Dalam banyak kasus sering kali letak Pemancar berada jauh di luar studio, sehingga dibutuhkan sebuah alat yang berfungsi ntuk menyalurkan sinyal dari Studio ke Pemancar. Alat ini kemudian disebut dengan STL (Studio to Transmitter Link) sebagaimana diperlihatkan dalam gambar diagram di bawah ini.

Gambar diagram prinsip kerja stasiun televisi

Dalam menyusun urutan program sering kali terdapat slot waktu untuk siaran langsung (live), baik yang berasal dari dalam atau dari luar studio. Sementara itu siaran langsung biasanya waktunya sering tidak pasti, dalam arti bisa maju atau mundur beberapa menit atau detik. Oleh karena itu di dalam software On-Air Automation umumnya telah tersedia fasilitas yang mampu menyesuaikan maju mundurnya waktu penayangan program siaran langsung ini.
Siaran langsung dari luar studio umumnya menggunakan jalur Fiber Optic, Satelit atau Microwave Link sebagai sarana untuk mengirimkan sinyal dari lokasi ke studio. Sinyal-sinyal yang berasal dari luar ini dipilih melalui Routing Switcher dan kemudian harus disinkronkan terlebih dahulu dengan standar sinyal eksisting yang ada di dalam studio. Perangkat yang berfungsi untuk mensinkronisasi sinyal video ini disebut Frame Synchronizer. Selanjutnya, untuk mengukur kualitas sinyal-sinyal dari luar itu digunakan peralatan video monitoring berupa Waveform dan Vectorscope.
Siaran langsung dari dalam Studio misalnya adalah siaran berita, wawancara atau dialog. Di dalam siaran berita sering kali disisipi dengan laporan langsung dari lokasi. Maka sinyal dari lokasi ini harus dikirim dulu ke studio, kemudian digabungkan dengan pembaca berita (terkadang disisipi text dan gambar-gambar graphic), baru kemudian diteruskan ke Master Switcher untuk disisipi logo, running text atau iklan animasi (bila ada) dan selanjutnya output dari Master Switcher dikirim ke Pemancar.
Jika ukuran Studio itu cukup besar maka bisa digunakan untuk memproduksi program-program hiburan seperti talk show, kuis, kontes / live music atau acara-acara lain yang agak kolosal. Tapi itu semua tergantung dari visi dan misi dari stasiun TV itu sendiri. Di beberapa stasiun TV, studio untuk program hiburan seperti itu umumnya terpisah dari studio untuk siaran berita, sehingga ada lebih dari satu studio untuk memproduksi program yang berbeda-beda. Tapi di beberapa stasiun TV banyak juga dijumpai hanya satu studio untuk memproduksi berbagai macam program. Tujuannya adalah untuk efisiensi. Maksudnya, efisien dalam hal investasi alat, ruangan dan jumlah personel yang mengoperasikannya.
Studio sering pula digunakan untuk keperluan rekaman (taping). Hasil rekamannya kemudian di proses di jajaran Pasca Produksi untuk menjalani proses editing. Misalnya gambar-gambar yang tidak perlu harus dibuang, suara yang lemah diperkuat atau yang terlalu kuat dikurangi, kemudian diberi tulisan atau graphic agar tampilannya lebih menarik, atau diberi sisipan suara (dubbing / voice over) bilamana perlu. Setelah proses itu semua selesai kemudian materinya diserahkan ke bagian Quality Control untuk diperiksa kualitasnya. Bila telah lolos QC barulah dikirim ke Play Out untuk dimasukkan ke dalam daftar tunggu (Play List). Pada waktu yang telah ditentukan, program ini kemudian akan tayang sendirir secara otomatis atas perintah software On-Air Automation.

INTERCOM
Di dalam studio banyak sekali pihak yang terlibat dalam kegiatan produksi sebuah program, yaitu:
01. Producer
02. Program Director
03. Floor Director
04. Anchor / Pembawa Acara
05. Cameramen
06. Switcherman
07. Audio Engineer
08. Lightingmen
09. CG / Graphic Operator
10. VTR / Record & Play Back Operator
11. Operator Telepromter
12. Technical Support
13. Master Control

Ke semua personel ini selalu terlibat dalam sebuah kegiatan produksi program di dalam studio. Khusus untuk program siaran langsung, suasana kegiatan produksi umumnya sangat gaduh, ritme kerjanya sangat cepat, penuh dengan tekanan dan keputusan harus diambil saat itu juga, tapi kesalahan harus seminim mungkin. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika tidak ada saluran komunikasi khusus antara satu dengan yang lain. Semua personel yang berkepentingan akan saling berteriak untuk menyampaikan maksudnya. Sementara personel yang lain, dengan kepentingan yang lain, juga akan melakukan hal yang sama. Maka suasana akan menjadi sangat berisik dan gaduh. Nah di sinilah Intercom dibutuhkan, dimana fungsi utama Intercom adalah untuk menjadi saluran komunikasi yang tertib dan terarah. Tertib dalam arti komunikasi dapat berlangsung secara bergantian, sedangkan terarah dalam arti ada beberapa saluran yang bisa dipilih untuk komuniikasi secara berkelompok dengan kepentingan yang berbeda. Sebagai contoh misalnya:
1. Producer hanya berbicara kepada Anchor / Talent melalui saluran Program Interupt.
2. Program Director berbicara dengan Cameramen melalui channel-1.
3. Producer berbicara dengan Floor Director melalui channel-2.
4. Program Director berbicara dengan Audioman, Graphic, MCR dan Technical Support melalui channel-3.
5. Sementara channel-4 digunakan untuk pemakaian bersama (Party Line).

Gambar (1): Saluran komunikasi dibagi beberapa kanal untuk tujuan yang berbeda-beda.

Begitulah. Maka dengan adanya Intercom ini komunikasi di dalam studio akan menjadi tertib dan terarah. Intercom juga sering digunakan untuk komunikasi antara studio dan satu lokasi di luar studio, dimana sebuah event sedang berlangsung. Agar komunikasi ini tetap berlangsung secara tertib dan terarah, diperlukan sebuah interface antara Intercom dengan saluran telephone. Dengan interface ini maka crew yang berada di dalam studio bisa berkomunikasi dengan crew yang berada di luar studio melalui jaringan telephone seperti layaknya berkomunikasi via Intercom biasa. Salah satu produk interface seperti ini misalnya adalah ClearCom tipe AC-701 (perhatikan gambar 1).
Hubungan Intercom dari Producer ke Talent juga bisa berlangsung secara wireless dengan menggunakan transmitter ClearCom PTX2 dan receiver ClearCom PRC2 (perhatikan gambar 1), dan masih banyak lagi variasi produk intercom yang bisa dipilih untuk memenuhi kebutuhan yang mungkin sangat spesifik di masing-masing studio. Gambar 2 memperlihatkan satu contoh lagi diagram Intercom 4 kanal yang sangat umum digunakan di dalam News Studio.
Untuk jaringan intercom yang lebih kompleks sangat disarankan untuk menggunakan intercom jenis MATRIX yang cara kerjanya mirip PABX telephone, dimana ada satu central dan ada sekian banyak Remote Station. Setiap Remote Station bisa menghubungi Remote Station lain cukup dengan menekan tombol-tombol tertentu, seperti layaknya menekan tombol telephone. Contoh-contoh produk Intercom beserta varasinya bisa dilihat lebih detail dalam Produk Intercom.

Gambar (2): Salah satu contoh konfigurasi Intercom di dalam studio
Studio: Video Work Flow
Di dalam studio terdapat tiga komponen utama, yaitu: Kamera, Monitor dan Video Switcher. Kamera berfungsi untuk mengambil gambar, lalu hasilnya bisa dilihat di layar monitor, sedangkan Switcher berfungsi untuk men-switch (mengganti-ganti) gambar yang berasal dari Kamera 1, Kamera 2, Kamera 3 dan seterusnya. Outputnya lalu dikirim ke Pemancar atau bisa juga direkam ke sebuah alat perekam video atau video server. Ini adalah prinsip yang paling dasar dari sebuah mekanisme kerja di dalam studio dengan jumlah Kamera lebih dari satu. Pertanyaan: mengapa diperlukan kamera lebih dari satu? Karena dengan banyak kamera obyek gambar bisa diambil dari beberapa sudut pada saat yang bersamaan, sehingga pengambilan gambar menjadi lebih effektif. Itulah sebabnya Swicther dibutuhkan dalam sistem multi Kamera agar pengambilan gambar dari satu sudut ke sudut yang lain dapat diganti-ganti dengan cepat.
Setiap Kamera diberi satu Monitor. Tujuannya adalah agar Operator Switcher dapat dengan mudah mengidentifikasi Kamera mana yang sudah siap dan kamera mana yang belum. Kamera yang belum siap biasanya masih melakukan adjusment (pan, tilt, zoom dan focus) pada obyek gambar yang sedang diambilnya. Seorang Program Director (PD) dapat meminta pada kameraman, melalui Intercom, untuk mengarahkan kameranya ke satu obyek tertentu. Selanjutnya melalui Monitor-Monitor yang ada di Ruang Kontrol, PD dapat melihat apakah gambar yang diambil oleh kameraman itu sudah sesuai yang dia inginkan atau belum. Jika belum maka dia bisa meminta lagi agar Kameraman melakukan adjusment lagi hingga gambar yang dia maksudkan terpenuhi. Itulah sebabnya Intercom menjadi sarana komunikasi yang sangat vital di dalam Studio.
Switcher umumnya dilengkapi dengan Monitor PREVIEW yang berfungsi sebagai monitor sesaat sebelum gambar ditayangkan, sedangkan gambar yang sedang tayang dapat dilihat melalui Monitor PROGRAM. Video output berupa PROGRAM yang dihasilkan oleh Switcher, selanjutnya di-stribusi-kan oleh VDA (Video Distribution Amplifier) ke beberapa tujuan. Diantaranya adalah ke Pemancar untuk dipancarakan, ke Video Server untuk direkam dan ke Floor Monitor (perhatikan gambar (1) di bawah ini). Floor Monitor diletakkan di dalam studio, dan berfungsi mirip cermin buat aktor, anchor atau MC yang sedang beraksi sehingga dia dapat melihat sendiri bagaimana penampilannya dalam layar.
Gambar (1) Diagram video flow untuk multi kamera studio tingkat dasar. Perbesar gambar.
Berdasarkan pengalaman, 3 buah Kamera adalah jumlah yang paling optimal untuk studio pemberitaan (News Studio). Sebab pada umumnya obyek gambar di dalam News Studio bisa lebih dari satu. Misalnya 2 orang Anchor membaca berita secara bergantian, atau satu Anchor dengan satu atau dua Nara Sumber, dimana obyek-obyek gambar seperti ini relatif diam (tidak berpindah tempat) dan umumnya juga bersifat formal (tidak banyak bergerak), sehingga 3 Kamera dinilai pas untuk mengcover obyek gambar seperti ini.
Berbeda sekali dengan program hiburan seperti Pentas Musik, Kontes atau Fashion Show misalnya. Program yang seperti ini obyek gambarnya banyak, bergerak, berpindah-pindah tempat dan bersifat non formal (pengambilan gambar bisa dari bawah, dari atas atau miring). Dengan demikian jumlah Kamera yang dibutuhkan untuk program hiburan seperti ini menjadi lebih banyak, sehingga dibutuhkan Switcher dengan jumlah port input yang lebih banyak juga.
Dalam sebuah program, gambar yang bersumber dari Kamera saja dirasa tidak cukup, karena informasi yang ditayangkan tidak akan lengkap tanpa tambahan data pendukung yang memadai. Data pendukung ini bisa berupa tulisan atau gambar-gambar grafis. Itulah sebabnya dibutuhkan komputer graphic dan CG (Character Generator = komputer pembangkit huruf) untuk memperkaya sebuah program agar menjadi lebih informatif dan menarik.
Selain itu dibutuhkan pula potongan-potongan program (video clip) untuk di-insert ke dalam program utama, dimana video-video clip ini telah sengaja dibuat sedemikian rupa memang untuk melengkapi program utama. Untuk itu dibutuhkan mesin pemutar video clip (playout system) misalnya adalah Video Server. Umumnya Video Server ini berjumlah 2 buah agar bisa digunakan secara bergantian (A-B Roll), atau Video Server yang satu menjadi back up dari Video Server yang lain. Video Server umumnya juga dilengkapi dengan port input dan software perekamanan sehingga bisa difungsikan sebagai alat perekam. Dulu alat perekam video yang paling populer adalah VTR (Video Tape Recorder), dimana sinyal video disimpan di dalam pita magnetik. Tapi sekarang alat penyimpan video yang lebih populer adalah hardisk, solid state disk (SSD) atau memory card, sehingga komputer atau server menjadi alat perekam atau pemutar video yang dominan saat ini.
Dari uraian di atas maka menjadi jelas bahwa selain untuk keperluan siaran langsung, peralatan studio ini bisa juga digunakan untuk merekam program (taping). Sinyal yang direkam tidak selalu berasal dari dalam studio, tetapi bisa juga berasal dari luar studio. Misalnya hendak merekam siaran langsung sepak bola Liga Italia, dimana setelah direkam hasilnya akan ditayangkan keesokan harinya. Siaran langsung Liga Italia ini bisa diperoleh dari satelit dengan menggunakan antena parabola dan alat penerima yang disebut dengan TVRO (Television Receive Only). Maka menjadi penting untuk menyediakan port input pada Switcher sebagai pintu masuk buat sinyal yang berasal dari luar. Dan selain untuk merekam sinyal dari luar, port input ini juga bisa digunakan untuk keperluan siaran langsung.
Ada satu hal lagi yang perlu dibahas lebih lanjut, yaitu mengenai sinkronisasi. Ketika Video Switcher memindahkan sinyal input dari kamera 1 ke Kamera 2 misalnya, apa yang terjadi tepat pada saat switch ini berpindah? Bayangkan, ketika Kamera 1 sedang melakukan scanning, tepat pada saat posisi scanning persis ditengah layar, lalu switch pindah ke Kamera 2. Padahal Kamera 2 sedang mengambil obyek gambar yang lain. Jadi gambar yang setengah layar sisa dari Kamera 1 tadi terus kemana? Nah pada kondisi seperti inilah yang akan menyebabkan perpindahan gambar dari Kamera 1 ke Kamera 2 menjadi "jumping". Maka masalah jumping ini kemudian diatasi dengan cara: switch akan berpindah hanya pada saat scanning berada pada posisi blanking vertikal.
Pertanyaan kedua adalah: pada saat kamera 1 berada pada posisi blanking vertikal, apakah pada saat itu juga kamera 2 berada pada posisi blanking vertikal juga? Jawabanya adalah tidak, karena memang kita tidak tahu. Oleh karena itu switch akan berpindah ketika kamera 1 berada pada posisi blanking vertikal dan menunggu hingga kamera 2 berada pada posisi blanking vertikal juga. Dan karena posisi blanking vertikal kedua kamera ini tidak sama (tidak sinkron), maka perpindahan dari kamera 1 ke kamera 2 terpaksa harus ditunda. Lamanya waktu tunda ini adalah setengah frame (20 mili detik) maksimum. Selama waktu tunda yang sangat singkat ini, gambar dari kamera 1 akan dibekukan sesaat (freze) sebelum digantikan oleh gambar dari kamera 2. Kejadian ini berlangsung sedemikian singkat (maks 20 mili detik) sehingga efeknya tidak begitu kentara. Oleh karena itu Switcher dengan kelemahan seperti ini masih banyak digunakan mengingat harganya relatif murah dan efek yang ditimbulkannya tidak begitu kentara.
Agar perpindahan gambar dari Kamera 1 ke Kamera 2 berjalan dengan mulus, maka masing-masing perangkat harus sinkron. Maksudnya, pulsa sinkronisasi di kedua kamera itu harus sama. Untuk itu dibutuhkan sebuah pembangkit sinyal sinkronisasi (Synch Generator) dimana sinyal atau pulsa sinkronisasi ini selanjutnya dapat di-distribusi-kan melalui Video Distibution Amplifier (VDA) ke semua Kamera dan perangkat-perangkat lainnya, seperti: CG, Graphic, Server dan Switcher (perhatikan blok pada gambar (2) yang berwarna hijau). Dengan demikian ketika gambar dipindah oleh Swicher dari satu input ke input yang lain perpindahannya akan berjalan dengan mulus. Sebab semua perangkat sudah menggunakan sinyal referensi yang sama, sehingga bisa dipastikan bahwa posisi pulsa blanking vertikal maupun horizontalnya akan selalu sama.
Lalu bagaimana dengan sinyal yang berasal dari luar? Bukankah sinyal dari luar itu pasti tidak sinkron? Nah agar sinkron sinyal dari luar itu harus dilewatkan terlebih dahulu ke Frame Synchronizer (lihat blok pada gambar (2) yang berwarna biru). Oleh Frame Sync sinyal dari luar itu akan di-capture kemudian secara digital dimodifikasi sedemikian rupa sehingga posisi blanking vertikal dan horizontalnya sama / sinkron dengan sinyal di dalam studio. Dengan cara ini maka sinyal dari luar studio akan selalu sinkron dengan sinyal di dalam studio (eksisting).
Setelah semua sinyal sudah sinkron lalu bagaimana cara menyamakan kualitas gambar dari tiga unit Kamera? Bayangkan seandainya ada 3 Kamera yang mengambil obyek gambar yang sama. Misalnya gambar wajah penyiar. Kamera-1 mengambil gambar wajah penyiar dari sebelah kiri, Kamera-2 dari sebelah kanan dan Kamera-3 dari depan. Ternyata hasilnya bisa berbeda-beda. Misalnya, wajah penyiar dari sudut kiri terlihat sedikit lebih terang, dari sudut kanan sedikit lebih kontras sedangkan dari depan sedikit lebih merah, dan masih banyak detail-detail lain yang bisa mengungkapkan perbedaan-perbedaan itu. Jadi walaupun ketiga kamera itu dari merk dan tipe yang sama, tapi gambar yang dihasilkan bisa berbeda-beda. Perbedaan ini mungkin tidak begitu kentara, tapi ketika dilihat melalui alat ukur barulah terlihat bedanya. Hal ini disebabkan karena masing-masing kamera di set secara individual menggunakan monitor yang terpisah. Dan ketika outputnya disatukan dalam satu layar barulah akan terlihat bedanya. Itulah sebabnya sangat disarankan untuk tidak mengambil obyek gambar yang sama dari 2 kamera yang berbeda, karena bila ada perbedaan diantara keduanya akan mudah sekali terlihat. Juga sangat disarankan untuk menggunakan kamera dengan merk dan tipe yang sama, karena bila merk/tipe kamera itu berbeda pastilah gambar yang dihasilkan akan berbeda. Kecuali jika obyek gambar yang diambil berbeda, karena dua obyek gambar yang berbeda pastilah tidak bisa dibandingkan. Jadi perbedaan itu akan sangat sulit diidentifikasi bila obyek gambar yang diambil berbeda.
Untuk mengatasi masalah perbedaan itu kemudian digunakan sebuah alat yang disebut dengan CCU (Camera Control Unit). Melalui CCU inilah setiap kamera bisa diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan terang, kontras dan corak/warna yang benar-benar mirip satu sama lain. Untuk membantu setting multi kamera ini umumnya digunakan alat ukur Waveform dan Vectorscope. Waveform untuk membantu mengukur kontras dan gelap-terangnya gambar (Luminance), sedangkan Vectorscope diperlukan untuk mengetahui amplitudo dan sudut phasa dari sinyal warna (Chrominance). Jumlahnya cukup satu saja karena melalui Video Routing Switcher input dari Waveform & Vectorscope ini dapat diganti-ganti dengan mudah. Jadi Waveform & Vectorscope selain untuk menge-set Kamera juga sekaligus bisa digunakan untuk mengukur dan memonitor perangkat-perangkat lain seperti: CG, Graphic, Server, Frame Sync dan juga Output Program [perhatikan gambar (2)]
Dalam gambar (2) terdapat satu layar monitor besar. Ini dimaksudkan untuk mengurangi kebutuhan ruang, mengingat jumlah monitor yang dibutuhkan cukup banyak sehingga membutuhkan ruang yang cukup besar. Dengan menyatukan monitor-monitor ini ke dalam satu layar, maka kebutuhan ruang menjadi jauh berkurang. Selain itu pemasangan satu layar lebar (LED TV 55 inch, misalnya) secara praktis juga sangat mudah. Harganya pun kini juga relatif murah. Namun untuk keperluan ini diperlukan Muti-Viewer, yaitu sebuah alat yang berfungsi untuk menampilkan gambar dari sekian banyak input ke dalam satu layar. Di dalam Multi-Viewer terdapat fasilitas untuk mengatur posisi gambar, luas gambar dan label di setiap kotak gambar. Bahkan ada pula fasilitas untuk menampilkan Audio Level untuk memonitor level audio output.


Gambar (2) Diagram video flow untuk multi kamera studio tingkat lanjut. Perbesar gambar.
Dalam gambar (2) terdapat PC untuk Teleprompter, yaitu sebuah mesin pengolah kata (teks) dimana outputnya bisa ditampilkan ke layar monitor yang diletakkan di depan Kamera. Di atas layar monitor ini dipasang kaca tembus pandang dengan kemiringan 45 derajad sehingga tidak menghalangi Lensa Kamera tapi sekaligus juga berfungsi untuk memantulkan teks yang berasal dari layar monitor itu. Pantulan teks di kaca inilah yang kemudian bisa dibaca oleh Anchor atau Pembawa Acara. Teleprompter bisa berdiri sendiri atau terintegrasi dengan News Automation. Gambar (3) memperlihatkan diagram interkoneksi sebuah Teleprompter.

Gambar (3): Diagram interkoneksi Teleprompter


Studio: Audio Work Flow
Di dalam Studio pengambilan sinyal audio sama sekali terpisah dari sinyal video. Sinyal video diambil menggunakan Kamera sedangkan sinyal audio diambil menggunakan microphone. Microphone adalah transducer yang mengubah tekanan udara yang menimpa membran di dalamnya menjadi sinyal audio. Sinyal audio yang dihasilkan selanjutnya diperkuat, diatur dan dikendalikan melalui Audio Mixer. Output utama dari Mixer selanjutnya di-distribusi-kan ke beberapa tujuan melalui ADA (Audio Distribution Amplifier). Salah satu outputnya dikirim bersama-sama dengan sinyal video ke Pemancar untuk dipancarkan, sedangkan output lainnya dihubungkan ke Video Server A dan B untuk direkam bersama-sama dengan sinyal video pada saat taping, atau direkam ke Instant Replay untuk diputar ulang sesaat sesudah direkam.
Ada dua jenis hubungan dari Microphone ke Audio Mixer, yaitu wired dan wireless. Wired (pakai kabel) umumnya digunakan untuk menghubungkan Microphone yang posisinya relatif diam atau jarang berpindah-pindah, sedangkan wireless (tanpa kabel) sangat cocok untuk Microphone yang posisinya sering berpindah-pindah. Ada dua tipe Wireless Microphone, yaitu tipe yang dipegang (handheld) dan tipe Clip-On (dijepit di dekat kerah baju). Wireless Clip-On harus dihubungkan ke Pemancar yang ditempatkan di dalam Belt-Pack, baru kemudian pancaran sinyalnya itu ditangkap oleh Receiver (Rx) untuk kemudian dihubungkan ke input Audio Mixer.
Untuk keperluan monitoring ada beberapa Audio Monitor yang harus dipasang. Satu untuk operator audio itu sendiri, satu untuk operator video dan satu lagi untuk audience (Floor Monitor). Satu output lagi dihubungkan ke IFB (Intercom Fold Back) yang tersambung dengan Ear Set yang dipasang di telinga Anchor / MC / pembawa acara. Dengan demikian setiap orang yang berkepentingan di dalam studio dapat mendengarkan apa yang sedang berlangsung sehingga dapat bertindak sesuai perannya masing-masing.
Dalam beberapa kasus bila ada program yang memerlukan musik sebagai background, maka CD Player perlu disediakan untuk memenuhi kebutuhan itu. Selain itu perlu juga Telephone Hybrid untuk menyiarkan suara yang berasal dari nara sumber yang berada di luar studio. Telephone Hybrid berfungsi untuk mengambil sinyal voice yang mengalir pada saluran telephone menjadi sinyal audio agar lebih mudah diintegrasikan ke dalam Audio Mixer, dan sebaliknya mengubah sinyal audio dari Mixer menjadi sinyal voice agar sesuai dengan saluran telephone. Jumlah saluran telephone yang masuk ke dalam Telephone Hybrid bisa dipilih sesuai kebutuhan, sehingga dua (atau lebih) suara nara sumber dapat ditayangkan bersama- sama dengan suara Anchor, MC atau Pembawa Acara yang ada di dalam studio. Selanjutnya, bila di dalam Studio terdapat fasilitas Virtual Set, maka diperlukan Audio Delay yang berfungsi untuk men-delay sinyal audio agar sinkron dengan sinyal video yang ter-delay akibat dari proses pengolahan sinyal video dan graphic 3 demensi di dalam mesin Virtual Set.
Gambar 1 : Diagram audio flow untuk sebuah studio secara umum.


Studio to Transmitter Link (STL)
Posisi antena pemancar yang paling ideal adalah di tempat yang tinggi. Tujuannya adalah agar supaya radiasi gelombang radia yang dipancarkannya bisa secara bebas menjangkau wilayah yang seluas-luasnya tanpa terhalang apapun. Sebab frekuensi kerja siaran TV berada pada band UHF, sehingga untuk mendapatkan penerimaan sinyal yang baik adalah bila antena pemancar dana antena penerima bisa saling melihat (Line of Sight). Untuk memenuhi syarat ideal ini maka diperlukan menara yang cukup tinggi untuk menempatkan antena di atasnya. Makin tinggi letak antena pemancar dengan sendirinya akan mudah dilihat oleh antena penerima.
Namun ketinggian menara antena juga ada batasnya. Bukan saja karena makin tinggi harga menara itu makain mahal, akan tetapi ketinggian menara seringkali dibatasi oleh Perda (peraturan daerah). Sebab hal ini menyangkut keindahan tata kota atau karena masalah keamanan penerbangan setempat. Untuk mengatasi masalah Perda ini kemudian menara antena dipilih untuk ditempatkan di suatu tempat yang agak tinggi di pinggir kota. Sebagai contoh misalnya Semarang. Di Semarang menara-menara TV hampir semuanya ditempatkan di bukit Gombel, karena posisi tanahnya agak tinggi sehingga antena penerima siaran TV bisa dengan mudah melihat ke arah ini. Demikian juga dengan Makasar, dimana menara-menara TV banyak ditempatkan di Bili-bili yang letaknya di pinggir kota dan posisi tanahnya cukup tinggi sehingga pacaraan sinyalnya bisa menjangkau wilayah yang sangat luas.
Di sisi lain, posisi yang ideal untuk peralatan produksi dan studio adalah di dalam kota. Sebab jumlah personel yang terlibat di dalamnya jauh lebih banyak, dan koordinasi dengan pihak luar pasti juga lebih mudah. Oleh karena itu posisi antara pemancar dan studio ini menjadi ada jarak. Jaraknyapun seringkali juga tidak dekat. Malah ada yang mencapai 20 km lebih. Nah agar sinyal dari studio ini bisa dipancarkan oleh pemancar diperlukan sebuah saluran sebagai penghubung. Saluran penghubung ini kemudian disebut dengan STL (Studio to Transmitter Link).
Ada tiga jenis STL yang bisa dipilih, yaitu: microwave, fiber optic atau satelit. Perangkat satelit relatif mahal dan harga sewa transpondernya juga mahal. Fiber optic sangat lama pemasangnnya dan butuh perizinan yang rumit untuk menggelarnya di sepanjang lintasannya. Jadi dari tiga pilihan itu yang paling sering dipilih adalah microwave, karena perangkat microwave harganya relatif lebih murah dan waktu pemasangannya relatif sangat cepat.
Gambar (1): Tiga pilihan STL, yaitu: (1) Microwave (2) Fiber Optic dan (3) Satelit

Dalam operasinya STL harus sangat handal, artinya link tidak boleh putus. Sebab kalau putus berarti siaran tidak bisa berlangsung. Oleh karena itu STL harus dibuat redundant. Tujuannya adalah bila satu link putus maka link satunya lagi akan menggantikannya. Dengan demikian kehandalan link benar-benar terjamin. Mengenai konfgurasi redundant, cukup banyak konfigurasi yang bisa dipilih, yaitu:
1. Konfigurasi 2 pasang microwave link, A dan B (A sebagai main dan B sebagai back up)
2. Konfigurasi 2 fiber optic link, A dan B (A sebagai main dan B sebagai back up)
3. Konfigurasi microwave sebagai main dan fiber optic sebagai back up
4. Konfigurasi microwave sebagai main dan satelit sebagai back up
5. Konfigurasi fiber optic sebagai main dan satelit sebagai back up
Konfigurasi nomor (1) adalah konfigurasi yang paling banyak digunakan oleh stasiun TV lokal, sedangkan konfigurasi nomor (4) yang paling banyak digunakan oleh stasiun TV nasional di Jakarta.

Nah, saya rasa sampai disini dulu pembahasan kita sekilas tentang kinerja stasiun TV.
Thankz. semoga bermanfaat :)




Komentar Terakhir