Cara kerja stasiun
TV pertama-tama dimulai dari Departemen Programming. Departemen
inilah yang merencanakan dan menentukan program apa yang akan ditayangkan,
pada jam berapa, dan siapa target pemirsanya. Lalu program itu apakah
harus dibuat sendiri secara inhouse, outsource, dibeli dari PH lokal
atau harus diimport dari luar negeri. Jika dibeli dari luar negeri,
program itu berupa cassete atau berupa siaran langsung (live). Progam
impor dalam bentuk pita cassete contohnya adalah film seri The A-Team,
Smallville atau Mc Gyver, sedangkan program impor live contohnya
adalah sepak bola piala dunia, tinju professional atau balap mobil
F1.
Bila program-program
itu telah dipilih dan jadwal penayangannya telah dutentukan, maka
bagian Sales & Marketing yang akan memasarkan / menjualnya kepada
calon pemasang iklan. Slot-slot waktu yang tersedia untuk iklan
kemudian diberi harga (rate card), sedangkan jenis iklan yang ditawarkan
bisa berupa video, graphic, animasi, running text, iklan built in
atau blocking time. Itu semua tergantung dari kesepakatan antara
kedua belah pihak (pemasang iklan dan operator stasiun TV).
Jika program
harus dibuat sendiri secara in house, maka bagian Produksi kemudian
akan menyusun crew, membuat jadwal dan memproduksi program itu sesuai
target waktu yang telah ditentukan. Produksinya bisa dikerjakan
di dalam studio atau di luar studio, tergantung dari jenis program
apa yang sedang dibuat. Setelah jadi (dalam bentuk pita
cassete atau file hardisk) langkah berikutnya
adalah proses Pasca
Produksi (Editing,
Graphic
dan Quality Control). Bila telah lolos dari Quality Control berarti
program ini telah siap tayang, dan program itu kemudian dikirim
ke Playout untuk dimasukkan ke dalam daftar tunggu
(Play List). Nantinya, pada jam, menit dan detik yang telah ditentukan,
program ini akan tayang sendiri secara otomatis berdasarkan perintah
dari software On-Air
Automation.
On-Air
Automation bekerja berdasarkan data entry yang
dimasukkan oleh bagian Traffic.
Data yang di entry itu misalnya: judul program, durasi, jam, menit
dan detik kapan program itu harus tampil ke layar. Jika fasilitasnya
tersedia, bisa juga data itu berisi kapan running text, graphic
atau animasi iklan harus tampil bersama-sama dengan program (fasilitas
ini disebut dengan Secondary Event). Bagian Traffic biasanya berada
di bawah Sales dengan tujuan agar memudahkan koordinasi dan kontrol
terhadap penayangan iklan. Sebab hal ini berakitan erat dengan masalah
tagihan dan pembayaran iklan. Traffic
atau pengaturan lalu lintas program dan iklan ini cukup rumit, karena
melibatkan banyak pihak (Programming, Sales, Finance dan Teknik)
sehingga diperlukan software khusus untuk membantu mempermudah teknis-operasionalnya.
Ketika semuanya
sudah tersusun rapi dan kemudian di run, maka Playout akan secara
otomatis menayangkan program dan iklan itu secara berurutan sesuai
jadwal yang telah tersusun dalam Play List. Sinyal audio-video yang
keluar dari Playout kemudian dipilih oleh Master Switcher untuk
selanjutnya dikirim ke Pemancar
untuk dipancarkan. Dalam banyak kasus sering kali letak Pemancar
berada jauh di luar studio, sehingga dibutuhkan sebuah alat yang
berfungsi ntuk menyalurkan sinyal dari Studio ke Pemancar. Alat
ini kemudian disebut dengan STL
(Studio to Transmitter Link) sebagaimana diperlihatkan dalam gambar
diagram di bawah ini.

Gambar
diagram prinsip kerja stasiun televisi
Dalam menyusun
urutan program sering kali terdapat slot waktu untuk siaran langsung
(live), baik yang berasal dari dalam atau dari luar studio. Sementara
itu siaran langsung biasanya waktunya sering tidak pasti, dalam
arti bisa maju atau mundur beberapa menit atau detik. Oleh karena
itu di dalam software On-Air
Automation umumnya telah tersedia fasilitas
yang mampu menyesuaikan maju mundurnya waktu penayangan program
siaran langsung ini.
Siaran langsung
dari luar studio umumnya menggunakan jalur Fiber Optic,
Satelit
atau Microwave
Link sebagai sarana untuk mengirimkan sinyal
dari lokasi ke studio. Sinyal-sinyal yang berasal dari luar ini
dipilih melalui Routing
Switcher dan kemudian harus disinkronkan terlebih
dahulu dengan standar sinyal eksisting yang ada di dalam studio.
Perangkat yang berfungsi untuk mensinkronisasi sinyal video ini
disebut Frame
Synchronizer. Selanjutnya, untuk mengukur kualitas
sinyal-sinyal dari luar itu digunakan peralatan video monitoring
berupa Waveform
dan Vectorscope.
Siaran langsung
dari dalam Studio
misalnya adalah siaran berita, wawancara atau dialog. Di dalam siaran
berita sering kali disisipi dengan laporan langsung dari lokasi.
Maka sinyal dari lokasi ini harus dikirim dulu ke studio, kemudian
digabungkan dengan pembaca berita (terkadang disisipi text dan gambar-gambar
graphic), baru kemudian diteruskan ke Master Switcher untuk disisipi
logo, running text atau iklan animasi (bila ada) dan selanjutnya
output dari Master Switcher dikirim ke Pemancar.
Jika ukuran
Studio
itu cukup besar maka bisa digunakan untuk memproduksi program-program
hiburan seperti talk show, kuis, kontes / live music atau acara-acara
lain yang agak kolosal. Tapi itu semua tergantung dari visi dan
misi dari stasiun TV itu sendiri. Di beberapa stasiun TV, studio
untuk program hiburan seperti itu umumnya terpisah dari studio untuk
siaran berita, sehingga ada lebih dari satu studio untuk memproduksi
program yang berbeda-beda. Tapi di beberapa stasiun TV banyak juga
dijumpai hanya satu studio untuk memproduksi berbagai macam program.
Tujuannya adalah untuk efisiensi. Maksudnya, efisien dalam hal investasi
alat, ruangan dan jumlah personel yang mengoperasikannya.
Studio
sering pula digunakan untuk keperluan rekaman (taping). Hasil rekamannya
kemudian di proses di jajaran Pasca Produksi untuk menjalani proses
editing. Misalnya gambar-gambar yang tidak perlu harus dibuang,
suara yang lemah diperkuat atau yang terlalu kuat dikurangi, kemudian
diberi tulisan atau graphic agar tampilannya lebih menarik, atau
diberi sisipan suara (dubbing / voice over) bilamana perlu. Setelah
proses itu semua selesai kemudian materinya diserahkan ke bagian
Quality Control untuk diperiksa kualitasnya. Bila telah lolos QC
barulah dikirim ke Play Out untuk dimasukkan ke dalam daftar tunggu
(Play List). Pada waktu yang telah ditentukan, program ini kemudian
akan tayang sendirir secara otomatis atas perintah software On-Air
Automation.
INTERCOM
Di dalam studio
banyak sekali pihak yang terlibat dalam kegiatan produksi sebuah
program, yaitu:
01. Producer
02. Program Director
03. Floor Director
04. Anchor / Pembawa Acara
05. Cameramen
06. Switcherman
07. Audio Engineer
08. Lightingmen
09. CG / Graphic Operator
10. VTR / Record & Play Back Operator
11. Operator Telepromter
12. Technical Support
13. Master Control
Ke semua personel ini selalu terlibat dalam sebuah kegiatan produksi program di dalam studio. Khusus untuk program siaran langsung, suasana kegiatan produksi umumnya sangat gaduh, ritme kerjanya sangat cepat, penuh dengan tekanan dan keputusan harus diambil saat itu juga, tapi kesalahan harus seminim mungkin. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika tidak ada saluran komunikasi khusus antara satu dengan yang lain. Semua personel yang berkepentingan akan saling berteriak untuk menyampaikan maksudnya. Sementara personel yang lain, dengan kepentingan yang lain, juga akan melakukan hal yang sama. Maka suasana akan menjadi sangat berisik dan gaduh. Nah di sinilah Intercom dibutuhkan, dimana fungsi utama Intercom adalah untuk menjadi saluran komunikasi yang tertib dan terarah. Tertib dalam arti komunikasi dapat berlangsung secara bergantian, sedangkan terarah dalam arti ada beberapa saluran yang bisa dipilih untuk komuniikasi secara berkelompok dengan kepentingan yang berbeda. Sebagai contoh misalnya:
02. Program Director
03. Floor Director
04. Anchor / Pembawa Acara
05. Cameramen
06. Switcherman
07. Audio Engineer
08. Lightingmen
09. CG / Graphic Operator
10. VTR / Record & Play Back Operator
11. Operator Telepromter
12. Technical Support
13. Master Control
Ke semua personel ini selalu terlibat dalam sebuah kegiatan produksi program di dalam studio. Khusus untuk program siaran langsung, suasana kegiatan produksi umumnya sangat gaduh, ritme kerjanya sangat cepat, penuh dengan tekanan dan keputusan harus diambil saat itu juga, tapi kesalahan harus seminim mungkin. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika tidak ada saluran komunikasi khusus antara satu dengan yang lain. Semua personel yang berkepentingan akan saling berteriak untuk menyampaikan maksudnya. Sementara personel yang lain, dengan kepentingan yang lain, juga akan melakukan hal yang sama. Maka suasana akan menjadi sangat berisik dan gaduh. Nah di sinilah Intercom dibutuhkan, dimana fungsi utama Intercom adalah untuk menjadi saluran komunikasi yang tertib dan terarah. Tertib dalam arti komunikasi dapat berlangsung secara bergantian, sedangkan terarah dalam arti ada beberapa saluran yang bisa dipilih untuk komuniikasi secara berkelompok dengan kepentingan yang berbeda. Sebagai contoh misalnya:
1. Producer
hanya berbicara kepada Anchor / Talent melalui saluran Program Interupt.
2. Program Director berbicara dengan Cameramen melalui channel-1.
3. Producer berbicara dengan Floor Director melalui channel-2.
4. Program Director berbicara dengan Audioman, Graphic, MCR dan Technical Support melalui channel-3.
5. Sementara channel-4 digunakan untuk pemakaian bersama (Party Line).
2. Program Director berbicara dengan Cameramen melalui channel-1.
3. Producer berbicara dengan Floor Director melalui channel-2.
4. Program Director berbicara dengan Audioman, Graphic, MCR dan Technical Support melalui channel-3.
5. Sementara channel-4 digunakan untuk pemakaian bersama (Party Line).

Gambar
(1): Saluran komunikasi dibagi beberapa kanal untuk tujuan yang
berbeda-beda.
Begitulah. Maka
dengan adanya Intercom ini komunikasi di dalam studio akan menjadi
tertib dan terarah. Intercom juga sering digunakan untuk komunikasi
antara studio dan satu lokasi di luar studio, dimana sebuah event
sedang berlangsung. Agar komunikasi ini tetap berlangsung secara
tertib dan terarah, diperlukan sebuah interface antara Intercom
dengan saluran telephone. Dengan interface ini maka crew yang berada
di dalam studio bisa berkomunikasi dengan crew yang berada di luar
studio melalui jaringan telephone seperti layaknya berkomunikasi
via Intercom biasa. Salah satu produk interface seperti ini misalnya
adalah ClearCom tipe AC-701 (perhatikan gambar 1).
Hubungan Intercom
dari Producer ke Talent juga bisa berlangsung secara wireless dengan
menggunakan transmitter ClearCom PTX2 dan receiver ClearCom PRC2
(perhatikan gambar 1), dan masih banyak lagi variasi produk intercom
yang bisa dipilih untuk memenuhi kebutuhan yang mungkin sangat spesifik
di masing-masing studio. Gambar 2 memperlihatkan satu contoh lagi
diagram Intercom 4 kanal yang sangat umum digunakan di dalam News
Studio.
Untuk jaringan
intercom yang lebih kompleks sangat disarankan untuk menggunakan
intercom jenis MATRIX yang cara kerjanya mirip PABX telephone, dimana
ada satu central dan ada sekian banyak Remote Station. Setiap Remote
Station bisa menghubungi Remote Station lain cukup dengan menekan
tombol-tombol tertentu, seperti layaknya menekan tombol telephone.
Contoh-contoh produk Intercom beserta varasinya bisa dilihat lebih
detail dalam Produk
Intercom.

Gambar
(2): Salah satu contoh konfigurasi Intercom di dalam studio
Studio: Video Work Flow
Di dalam studio
terdapat tiga komponen utama, yaitu: Kamera, Monitor dan Video Switcher.
Kamera berfungsi untuk mengambil gambar, lalu hasilnya bisa dilihat
di layar monitor, sedangkan Switcher
berfungsi untuk men-switch (mengganti-ganti) gambar yang berasal
dari Kamera 1, Kamera 2, Kamera 3 dan seterusnya. Outputnya lalu
dikirim ke Pemancar atau bisa juga direkam ke sebuah alat perekam
video atau video server. Ini adalah prinsip yang paling dasar dari
sebuah mekanisme kerja di dalam studio dengan jumlah Kamera lebih
dari satu. Pertanyaan: mengapa diperlukan kamera lebih dari satu?
Karena dengan banyak kamera obyek gambar bisa diambil dari beberapa
sudut pada saat yang bersamaan, sehingga pengambilan gambar menjadi
lebih effektif. Itulah sebabnya Swicther
dibutuhkan dalam sistem multi Kamera agar pengambilan
gambar dari satu sudut ke sudut yang lain dapat diganti-ganti dengan
cepat.
Setiap Kamera
diberi satu Monitor. Tujuannya adalah agar Operator Switcher dapat
dengan mudah mengidentifikasi Kamera mana yang sudah siap dan kamera
mana yang belum. Kamera yang belum siap biasanya masih melakukan
adjusment (pan, tilt, zoom dan focus) pada obyek gambar yang sedang
diambilnya. Seorang Program Director (PD) dapat meminta pada kameraman,
melalui Intercom,
untuk mengarahkan kameranya ke satu obyek tertentu. Selanjutnya
melalui Monitor-Monitor yang ada di Ruang Kontrol, PD dapat melihat
apakah gambar yang diambil oleh kameraman itu sudah sesuai yang
dia inginkan atau belum. Jika belum maka dia bisa meminta lagi agar
Kameraman melakukan adjusment lagi hingga gambar yang dia maksudkan
terpenuhi. Itulah sebabnya Intercom
menjadi sarana komunikasi yang sangat vital di dalam Studio.
Switcher
umumnya dilengkapi dengan Monitor PREVIEW yang berfungsi sebagai
monitor sesaat sebelum gambar ditayangkan, sedangkan gambar yang
sedang tayang dapat dilihat melalui Monitor PROGRAM. Video output
berupa PROGRAM yang dihasilkan oleh Switcher, selanjutnya di-stribusi-kan
oleh VDA (Video Distribution Amplifier) ke beberapa tujuan. Diantaranya
adalah ke Pemancar untuk dipancarakan, ke Video Server untuk direkam
dan ke Floor Monitor (perhatikan gambar (1) di bawah ini). Floor
Monitor diletakkan di dalam studio, dan berfungsi mirip cermin buat
aktor, anchor atau MC yang sedang beraksi sehingga dia dapat melihat
sendiri bagaimana penampilannya dalam layar.

Gambar (1) Diagram
video flow untuk multi kamera studio tingkat dasar. Perbesar
gambar.
Berdasarkan
pengalaman, 3 buah Kamera adalah jumlah yang paling optimal untuk
studio pemberitaan (News Studio). Sebab pada umumnya obyek gambar
di dalam News Studio bisa lebih dari satu. Misalnya 2 orang Anchor
membaca berita secara bergantian, atau satu Anchor dengan satu atau
dua Nara Sumber, dimana obyek-obyek gambar seperti ini relatif diam
(tidak berpindah tempat) dan umumnya juga bersifat formal (tidak
banyak bergerak), sehingga 3 Kamera dinilai pas untuk mengcover
obyek gambar seperti ini.
Berbeda sekali
dengan program hiburan seperti Pentas Musik, Kontes atau Fashion
Show misalnya. Program yang seperti ini obyek gambarnya banyak,
bergerak, berpindah-pindah tempat dan bersifat non formal (pengambilan
gambar bisa dari bawah, dari atas atau miring). Dengan demikian
jumlah Kamera yang dibutuhkan untuk program hiburan seperti ini
menjadi lebih banyak, sehingga dibutuhkan Switcher
dengan jumlah port input yang lebih banyak juga.
Dalam sebuah
program, gambar yang bersumber dari Kamera saja dirasa tidak cukup,
karena informasi yang ditayangkan tidak akan lengkap tanpa tambahan
data pendukung yang memadai. Data pendukung ini bisa berupa tulisan
atau gambar-gambar grafis. Itulah sebabnya dibutuhkan komputer graphic
dan CG (Character Generator = komputer pembangkit huruf) untuk memperkaya
sebuah program agar menjadi lebih informatif dan menarik.
Selain itu dibutuhkan
pula potongan-potongan program (video clip) untuk di-insert ke dalam
program utama, dimana video-video clip ini telah sengaja dibuat
sedemikian rupa memang untuk melengkapi program utama. Untuk itu
dibutuhkan mesin pemutar video clip (playout system) misalnya adalah
Video Server. Umumnya Video Server ini berjumlah 2 buah agar bisa
digunakan secara bergantian (A-B Roll), atau Video Server yang satu
menjadi back up dari Video Server yang lain. Video Server umumnya
juga dilengkapi dengan port input dan software perekamanan sehingga
bisa difungsikan sebagai alat perekam. Dulu alat perekam video yang
paling populer adalah VTR (Video Tape Recorder), dimana sinyal video
disimpan di dalam pita
magnetik. Tapi sekarang alat penyimpan video
yang lebih populer adalah hardisk, solid state disk (SSD) atau memory
card, sehingga komputer atau server menjadi alat perekam atau pemutar
video yang dominan saat ini.
Dari uraian
di atas maka menjadi jelas bahwa selain untuk keperluan siaran langsung,
peralatan studio ini bisa juga digunakan untuk merekam program (taping).
Sinyal yang direkam tidak selalu berasal dari dalam studio, tetapi
bisa juga berasal dari luar studio. Misalnya hendak merekam siaran
langsung sepak bola Liga Italia, dimana setelah direkam hasilnya
akan ditayangkan keesokan harinya. Siaran langsung Liga Italia ini
bisa diperoleh dari satelit dengan menggunakan antena parabola dan
alat penerima yang disebut dengan TVRO (Television Receive Only).
Maka menjadi penting untuk menyediakan port input pada Switcher
sebagai pintu masuk buat sinyal yang berasal dari luar. Dan selain
untuk merekam sinyal dari luar, port input ini juga bisa digunakan
untuk keperluan siaran langsung.
Ada satu hal
lagi yang perlu dibahas lebih lanjut, yaitu mengenai sinkronisasi.
Ketika Video Switcher
memindahkan sinyal input dari kamera 1 ke Kamera 2 misalnya, apa
yang terjadi tepat pada saat switch ini berpindah? Bayangkan, ketika
Kamera 1 sedang melakukan scanning, tepat pada saat posisi scanning
persis ditengah layar, lalu switch pindah ke Kamera 2. Padahal Kamera
2 sedang mengambil obyek gambar yang lain. Jadi gambar yang setengah
layar sisa dari Kamera 1 tadi terus kemana? Nah pada kondisi seperti
inilah yang akan menyebabkan perpindahan gambar dari Kamera 1 ke
Kamera 2 menjadi "jumping". Maka masalah jumping ini kemudian
diatasi dengan cara: switch akan berpindah hanya pada saat scanning
berada pada posisi blanking vertikal.
Pertanyaan kedua
adalah: pada saat kamera 1 berada pada posisi blanking vertikal,
apakah pada saat itu juga kamera 2 berada pada posisi blanking vertikal
juga? Jawabanya adalah tidak, karena memang kita tidak tahu. Oleh
karena itu switch akan berpindah ketika kamera 1 berada pada posisi
blanking vertikal dan menunggu hingga kamera 2 berada pada posisi
blanking vertikal juga. Dan karena posisi blanking vertikal kedua
kamera ini tidak sama (tidak sinkron), maka perpindahan dari kamera
1 ke kamera 2 terpaksa harus ditunda. Lamanya waktu tunda ini adalah
setengah frame (20 mili detik) maksimum. Selama waktu tunda yang
sangat singkat ini, gambar dari kamera 1 akan dibekukan sesaat (freze)
sebelum digantikan oleh gambar dari kamera 2. Kejadian ini berlangsung
sedemikian singkat (maks 20 mili detik) sehingga efeknya tidak begitu
kentara. Oleh karena itu Switcher dengan kelemahan seperti ini masih
banyak digunakan mengingat harganya relatif murah dan efek yang
ditimbulkannya tidak begitu kentara.
Agar perpindahan
gambar dari Kamera 1 ke Kamera 2 berjalan dengan mulus, maka masing-masing
perangkat harus sinkron. Maksudnya, pulsa
sinkronisasi di kedua kamera itu harus sama.
Untuk itu dibutuhkan sebuah pembangkit sinyal sinkronisasi (Synch
Generator) dimana sinyal atau pulsa sinkronisasi
ini selanjutnya dapat di-distribusi-kan melalui Video Distibution
Amplifier (VDA) ke semua Kamera dan perangkat-perangkat lainnya,
seperti: CG, Graphic, Server dan Switcher (perhatikan blok pada
gambar (2) yang berwarna hijau). Dengan demikian ketika gambar dipindah
oleh Swicher dari satu input ke input yang lain perpindahannya akan
berjalan dengan mulus. Sebab semua perangkat sudah menggunakan sinyal
referensi yang sama, sehingga bisa dipastikan bahwa posisi pulsa
blanking vertikal maupun horizontalnya akan selalu sama.
Lalu bagaimana
dengan sinyal yang berasal dari luar? Bukankah sinyal dari luar
itu pasti tidak sinkron? Nah agar sinkron sinyal dari luar itu harus
dilewatkan terlebih dahulu ke Frame
Synchronizer (lihat blok pada gambar (2) yang
berwarna biru). Oleh Frame Sync sinyal dari luar itu akan di-capture
kemudian secara digital dimodifikasi sedemikian rupa sehingga posisi
blanking vertikal dan horizontalnya sama / sinkron dengan sinyal
di dalam studio. Dengan cara ini maka sinyal dari luar studio akan
selalu sinkron dengan sinyal di dalam studio (eksisting).
Setelah semua
sinyal sudah sinkron lalu bagaimana cara menyamakan kualitas gambar
dari tiga unit Kamera? Bayangkan seandainya ada 3 Kamera yang mengambil
obyek gambar yang sama. Misalnya gambar wajah penyiar. Kamera-1
mengambil gambar wajah penyiar dari sebelah kiri, Kamera-2 dari
sebelah kanan dan Kamera-3 dari depan. Ternyata hasilnya bisa berbeda-beda.
Misalnya, wajah penyiar dari sudut kiri terlihat sedikit lebih terang,
dari sudut kanan sedikit lebih kontras sedangkan dari depan sedikit
lebih merah, dan masih banyak detail-detail lain yang bisa mengungkapkan
perbedaan-perbedaan itu. Jadi walaupun ketiga kamera itu dari merk
dan tipe yang sama, tapi gambar yang dihasilkan bisa berbeda-beda.
Perbedaan ini mungkin tidak begitu kentara, tapi ketika dilihat
melalui alat ukur barulah terlihat bedanya. Hal ini disebabkan karena
masing-masing kamera di set secara individual menggunakan monitor
yang terpisah. Dan ketika outputnya disatukan dalam satu layar barulah
akan terlihat bedanya. Itulah sebabnya sangat disarankan untuk tidak
mengambil obyek gambar yang sama dari 2 kamera yang berbeda, karena
bila ada perbedaan diantara keduanya akan mudah sekali terlihat.
Juga sangat disarankan untuk menggunakan kamera dengan merk dan
tipe yang sama, karena bila merk/tipe kamera itu berbeda pastilah
gambar yang dihasilkan akan berbeda. Kecuali jika obyek gambar yang
diambil berbeda, karena dua obyek gambar yang berbeda pastilah tidak
bisa dibandingkan. Jadi perbedaan itu akan sangat sulit diidentifikasi
bila obyek gambar yang diambil berbeda.
Untuk mengatasi
masalah perbedaan itu kemudian digunakan sebuah alat yang disebut
dengan CCU (Camera Control Unit). Melalui CCU inilah setiap kamera
bisa diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan terang, kontras
dan corak/warna yang benar-benar mirip satu sama lain. Untuk membantu
setting multi kamera ini umumnya digunakan alat ukur Waveform
dan Vectorscope. Waveform untuk membantu mengukur
kontras dan gelap-terangnya gambar (Luminance), sedangkan Vectorscope
diperlukan untuk mengetahui amplitudo dan sudut phasa dari sinyal
warna (Chrominance). Jumlahnya cukup
satu saja karena melalui Video
Routing Switcher input dari Waveform & Vectorscope
ini dapat diganti-ganti dengan mudah. Jadi Waveform & Vectorscope
selain untuk menge-set Kamera juga sekaligus bisa digunakan untuk
mengukur dan memonitor perangkat-perangkat lain seperti: CG, Graphic,
Server, Frame Sync dan juga Output Program [perhatikan gambar (2)]
Dalam gambar
(2) terdapat satu layar monitor besar. Ini dimaksudkan untuk mengurangi
kebutuhan ruang, mengingat jumlah monitor yang dibutuhkan cukup
banyak sehingga membutuhkan ruang yang cukup besar. Dengan menyatukan
monitor-monitor ini ke dalam satu layar, maka kebutuhan ruang menjadi
jauh berkurang. Selain itu pemasangan satu layar lebar (LED TV 55
inch, misalnya) secara praktis juga sangat mudah. Harganya pun kini
juga relatif murah. Namun untuk keperluan ini diperlukan Muti-Viewer,
yaitu sebuah alat yang berfungsi untuk menampilkan gambar dari sekian
banyak input ke dalam satu layar. Di dalam Multi-Viewer
terdapat fasilitas untuk mengatur posisi gambar, luas gambar dan
label di setiap kotak gambar. Bahkan ada pula fasilitas untuk menampilkan
Audio Level untuk memonitor level audio output.

Gambar (2) Diagram
video flow untuk multi kamera studio tingkat lanjut. Perbesar
gambar.
Dalam gambar
(2) terdapat PC untuk Teleprompter,
yaitu sebuah mesin pengolah kata (teks) dimana outputnya bisa ditampilkan
ke layar monitor yang diletakkan di depan Kamera. Di atas layar
monitor ini dipasang kaca tembus pandang dengan kemiringan 45 derajad
sehingga tidak menghalangi Lensa Kamera tapi sekaligus juga berfungsi
untuk memantulkan teks yang berasal dari layar monitor itu. Pantulan
teks di kaca inilah yang kemudian bisa dibaca oleh Anchor atau Pembawa
Acara. Teleprompter
bisa berdiri sendiri atau terintegrasi dengan News
Automation. Gambar (3) memperlihatkan diagram
interkoneksi sebuah Teleprompter.

Gambar (3): Diagram
interkoneksi Teleprompter
Studio: Audio Work Flow
Di dalam Studio
pengambilan sinyal audio sama sekali terpisah dari sinyal
video. Sinyal video diambil menggunakan Kamera
sedangkan sinyal audio diambil menggunakan microphone. Microphone
adalah transducer yang mengubah tekanan udara yang menimpa membran
di dalamnya menjadi sinyal audio. Sinyal audio yang dihasilkan selanjutnya
diperkuat, diatur dan dikendalikan melalui Audio
Mixer. Output utama dari Mixer selanjutnya di-distribusi-kan
ke beberapa tujuan melalui ADA (Audio Distribution Amplifier). Salah
satu outputnya dikirim bersama-sama dengan sinyal video ke Pemancar
untuk dipancarkan, sedangkan output lainnya dihubungkan ke Video
Server A dan B untuk direkam bersama-sama dengan sinyal video pada
saat taping, atau direkam ke Instant Replay untuk
diputar ulang sesaat sesudah direkam.
Ada dua jenis
hubungan dari Microphone ke Audio
Mixer, yaitu wired dan wireless. Wired (pakai
kabel) umumnya digunakan untuk menghubungkan Microphone yang posisinya
relatif diam atau jarang berpindah-pindah, sedangkan wireless (tanpa
kabel) sangat cocok untuk Microphone yang posisinya sering berpindah-pindah.
Ada dua tipe Wireless Microphone, yaitu tipe yang dipegang (handheld)
dan tipe Clip-On (dijepit di dekat kerah baju). Wireless Clip-On
harus dihubungkan ke Pemancar yang ditempatkan di dalam Belt-Pack,
baru kemudian pancaran sinyalnya itu ditangkap oleh Receiver (Rx)
untuk kemudian dihubungkan ke input Audio
Mixer.
Untuk keperluan
monitoring ada beberapa Audio Monitor yang harus
dipasang. Satu untuk operator audio itu sendiri, satu untuk operator
video dan satu lagi untuk audience (Floor Monitor). Satu output
lagi dihubungkan ke IFB (Intercom Fold Back) yang tersambung dengan
Ear Set yang dipasang di telinga Anchor / MC / pembawa acara. Dengan
demikian setiap orang yang berkepentingan di dalam studio dapat
mendengarkan apa yang sedang berlangsung sehingga dapat bertindak
sesuai perannya masing-masing.
Dalam beberapa
kasus bila ada program yang memerlukan musik sebagai background,
maka CD Player perlu disediakan untuk memenuhi
kebutuhan itu. Selain itu perlu juga Telephone
Hybrid untuk menyiarkan suara yang berasal dari
nara sumber yang berada di luar studio. Telephone Hybrid berfungsi
untuk mengambil sinyal voice yang mengalir pada saluran telephone
menjadi sinyal audio agar lebih mudah diintegrasikan ke dalam Audio
Mixer, dan sebaliknya mengubah sinyal audio
dari Mixer menjadi sinyal voice agar sesuai dengan saluran telephone.
Jumlah saluran telephone yang masuk ke dalam Telephone Hybrid bisa
dipilih sesuai kebutuhan, sehingga dua (atau lebih) suara nara sumber
dapat ditayangkan bersama- sama dengan suara Anchor, MC atau Pembawa
Acara yang ada di dalam studio. Selanjutnya, bila di dalam Studio
terdapat fasilitas Virtual Set, maka diperlukan
Audio Delay yang berfungsi untuk men-delay sinyal
audio agar sinkron dengan sinyal video yang ter-delay akibat dari
proses pengolahan sinyal video dan graphic 3 demensi di dalam mesin
Virtual Set.

Gambar
1 : Diagram audio flow untuk sebuah studio secara umum.
Studio to Transmitter Link (STL)
Posisi antena
pemancar yang paling ideal adalah di tempat yang tinggi. Tujuannya
adalah agar supaya radiasi gelombang radia yang dipancarkannya bisa
secara bebas menjangkau wilayah yang seluas-luasnya tanpa terhalang
apapun. Sebab frekuensi kerja siaran TV berada pada band UHF, sehingga
untuk mendapatkan penerimaan sinyal yang baik adalah bila antena
pemancar dana antena penerima bisa saling melihat (Line of Sight).
Untuk memenuhi syarat ideal ini maka diperlukan menara yang cukup
tinggi untuk menempatkan antena di atasnya. Makin tinggi letak antena
pemancar dengan sendirinya akan mudah dilihat oleh antena penerima.
Namun ketinggian
menara antena juga ada batasnya. Bukan saja karena makin tinggi
harga menara itu makain mahal, akan tetapi ketinggian menara seringkali
dibatasi oleh Perda (peraturan daerah). Sebab hal ini menyangkut
keindahan tata kota atau karena masalah keamanan penerbangan setempat.
Untuk mengatasi masalah Perda ini kemudian menara antena dipilih
untuk ditempatkan di suatu tempat yang agak tinggi di pinggir kota.
Sebagai contoh misalnya Semarang. Di Semarang menara-menara TV hampir
semuanya ditempatkan di bukit Gombel, karena posisi tanahnya agak
tinggi sehingga antena penerima siaran TV bisa dengan mudah melihat
ke arah ini. Demikian juga dengan Makasar, dimana menara-menara
TV banyak ditempatkan di Bili-bili yang letaknya di pinggir kota
dan posisi tanahnya cukup tinggi sehingga pacaraan sinyalnya bisa
menjangkau wilayah yang sangat luas.
Di sisi lain,
posisi yang ideal untuk peralatan produksi dan studio adalah di
dalam kota. Sebab jumlah personel yang terlibat di dalamnya jauh
lebih banyak, dan koordinasi dengan pihak luar pasti juga lebih
mudah. Oleh karena itu posisi antara pemancar dan studio ini menjadi
ada jarak. Jaraknyapun seringkali juga tidak dekat. Malah ada yang
mencapai 20 km lebih. Nah agar sinyal dari studio ini bisa dipancarkan
oleh pemancar diperlukan sebuah saluran sebagai penghubung. Saluran
penghubung ini kemudian disebut dengan STL (Studio to Transmitter
Link).
Ada tiga jenis
STL yang bisa dipilih, yaitu: microwave, fiber optic atau satelit.
Perangkat satelit relatif mahal dan harga sewa transpondernya juga
mahal. Fiber optic sangat lama pemasangnnya dan butuh perizinan
yang rumit untuk menggelarnya di sepanjang lintasannya. Jadi dari
tiga pilihan itu yang paling sering dipilih adalah microwave, karena
perangkat microwave harganya relatif lebih murah dan waktu pemasangannya
relatif sangat cepat.

Gambar (1): Tiga
pilihan STL, yaitu: (1) Microwave (2) Fiber Optic dan (3) Satelit
Dalam operasinya
STL harus sangat handal, artinya link tidak boleh putus. Sebab kalau
putus berarti siaran tidak bisa berlangsung. Oleh karena itu STL
harus dibuat redundant. Tujuannya adalah bila satu link putus maka
link satunya lagi akan menggantikannya. Dengan demikian kehandalan
link benar-benar terjamin. Mengenai konfgurasi redundant, cukup
banyak konfigurasi yang bisa dipilih, yaitu:
1. Konfigurasi
2 pasang microwave link, A dan B (A sebagai main dan B sebagai back
up)
2. Konfigurasi 2 fiber optic link, A dan B (A sebagai main dan B sebagai back up)
3. Konfigurasi microwave sebagai main dan fiber optic sebagai back up
4. Konfigurasi microwave sebagai main dan satelit sebagai back up
5. Konfigurasi fiber optic sebagai main dan satelit sebagai back up
2. Konfigurasi 2 fiber optic link, A dan B (A sebagai main dan B sebagai back up)
3. Konfigurasi microwave sebagai main dan fiber optic sebagai back up
4. Konfigurasi microwave sebagai main dan satelit sebagai back up
5. Konfigurasi fiber optic sebagai main dan satelit sebagai back up
Konfigurasi
nomor (1) adalah konfigurasi yang paling banyak digunakan oleh stasiun
TV lokal, sedangkan konfigurasi nomor (4) yang paling banyak digunakan
oleh stasiun TV nasional di Jakarta.
Nah, saya rasa sampai disini dulu pembahasan kita sekilas tentang kinerja stasiun TV.
Thankz. semoga bermanfaat :)
Thankz. semoga bermanfaat :)
Sumber : http://www.2wijaya.com